Jumat, 16 April 2010

ARE YOU GROWN UP ENOUGH?




Apa rasanya dan pertanda seseorang telah menjadi dewasa?
Apakah tandanya hanya dari umur yang kian bertambah? Misalnya 17 tahun ke atas? (setidaknya begitu menurut saudara kita yang berasal dari benua Amerika dan Eropa).
Apakah karena orang tersebut already having sex (oops, don’t think in negative way)?
Apakah karena seseorang sudah tahu mengenai apa yang menjadi tujuan hidupnya entah berapapun umurnya?

Sejak lahir, manusia diajarkan beragam pengetahuan. Mulai dari pengetahuan verbal alias bahasa sebagai alat komunikasi, pengetahuan tentang warna dan bentuk benda, hingga akhirnya cukup umur untuk mulai menuntut ilmu di sekolah dasar sampai menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Lalu, jadilah manusia tersebut akrab dengan yang namanya pelajaran matematika, fisika, akuntansi, sampai bahasa dan seni. Namun demikian, saya tidak pernah menjumpai mata pelajaran atau mata kuliah yang berjudul “Menjadi Dewasa”.
Saya pernah mengenal seorang rekan yang umurnya sekitar 25 tahun lebih tua. Boleh dibilang, harusnya ia benar-benar sudah dewasa sepenuhnya. Namun apa yang terjadi?
Too my surprise, orang itu pernah rebutan tempat parkir di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta plus diwarnai adegan menyiram air dari tempat minumnya kepada mobil yang merebut tempat parkirnya. Byuurrr……. begitulah kira-kira.
Pengalaman lain lagi, seorang rekan berusia 40 tahun mendadak mengadaptasi gaya berkendara ala seekor banteng yang lari tunggang-langgang mau menyeruduk sana-sini, gara-gara ia ketahuan berselingkuh dan pasangannya mara-marah minta cerai. Gaya berkendara tersebut cukup ngetrend ketika saya masih duduk di bangku SMA dan kuliah (meski sekarang pun terkadang sesekali masih tukang ngebut). Namun, ia bertingkah demikian hingga hampir menabrak mobil lain. Boleh dibilang, ia membahayakan orang lain karena emosinya yang labil. Saya yang ketika itu sedang bersamanya ingin sekali berteriak “Man, it’s your personal problem, dick head!
Dua cerita di atas hanyalah sepengal kisah dari realita yang terjadi pada orang yang katanya sudah dewasa di sekitar saya. Masih banyak cerita dan pengalaman lain yang saya jumpai, namun tak mungkin semuanya saya bagikan kepada Anda. Mulai dari perilaku orang dewasa yang jenaka, kekanakan, hingga konyol dan menggelikan semuanya mewarnai hidup. Bahkan, hal ini banyak menyumbang inspirasi dalam pekerjaan saya sebagai seorang penulis.
Jaman dulu, orang berpendapat bahwa sex adalah ‘mainan’ orang dewasa. Namun kini, (ohlala..) sex telah menjadi mainan bagi semua kalangan baik yang sudah dewasa, ‘mengaku’ dewasa, hingga remaja yang di otaknya masih penuh tanda tanya mengenai hal ini. Apakah ini salah? Tidak juga! ‘Benda itu’ ada di tubuh Anda. Jadi menurut saya, Andalah yang punya kuasa sepenuhnya untuk memainkannya dengan baik maupun memberikannya secara cuma-cuma untuk dipermainkan!
Lalu, apa pertanda jadi dewasa jika umur yang bertambah ternyata tidak selalu menjaminnya dan kegiatan sex pun kini telah dipandang sebagai aktivitas ‘have fun go mad’ di segala rentang usia?
Teringat beberapa tahun yang lalu ketika masih berusia belasan, saya ingin menjadi seorang dokter atau arsitek. Saya yakin bisa mencapai cita-cita tersebut saat itu. Sampai, saya menyadari bahwa science isn’t my biggest passion dan akhirnya saya memilih menjalani studi ekonomi saat di perguruan tinggi. Sempat belajar psikologi, tapi lagi-lagi saya merasa salah jurusan! Ketika lulus, kedua orang tua menginginkan saya bekerja di bank. Namun entah mengapa, saya kurang tertarik. Sambil menunggu wisuda, saya sadar diri cari kerja. Saya magang di sebuah majalah mode karena saya sangat suka mengamati tren mode dan design. Saat itu, saya masih gak tahu mau jadi apa! Saya suka belajar ekonomi dan bahasa asing, saya sempat memutuskan untuk menjadi seorang diplomat. Disela-sela hari-hari magang pun saya belajar untuk testnya. Sayangnya, cuma lulus sampai tahap ke-3 lantas tak lama kemudian datanglah panggilan kerja sebagai penulis dan pengarah gaya di sebuah majalah mode asal Prancis. And the story begin….. Banyak suka duka dalam perjalanan karir yang satu ini.

So, where are you going? Me??? I am still thinking... (Help!!! Failed & anxiety strucked like a thunder bold, oh no!!) Namun seorang teman pernah berkata "At the end, everything is gonna be okay. If it's not okay then it is not the end."
Lalu, kini saya berpikir kembali mengenai apa yang menjadi pertanda seseorang telah menjadi dewasa? Apa menurut Anda?

Oiya, ngomong-ngomong soal sex, tentu hal ini tidak lepas dari yang namanya nafsu dan cinta. Tapi, tetap saja untuk membedakan mana yang hanya nafsu dan mana yang pakai cinta, masih kerap menjadi tanda tanya besar.
True love takes a lot of trying. Plus sex or not? Well, it’s your choice!
Mengenai hal ini, ada sebuah fakta unik yang saya temukan ketika mencermati gambar manusia vitruvian karya Leonardo Da Vinci. Coba lihat dengan baik, it’s not just a human anatomy in architectural way! Leonardo Da Vinci menggambar SOULMATE!
Here is my analysis:
1 head, 4 arms, 4 legs. The one with the opened legs surrounded by a delicate circle as a symbol for femininity and a man surrounded by a four-side figure square as a symbol for a masculinity. (Do you get it?)
So, according to this remarkable artwork, if you want to have a great sex and feel the great love just find your soulmate! Where? Of course, it’s none of my business! You have to find it yourself and let the destiny find you both. When you find and feel if that person is the one, just don’t let him/her go. If you feel he/she isn’t perfect… well, nobody's perfect! We are just a human who love to make mistake.

Akhirnya, pembicaraan mengenai hidup memang tiada habisnya selama bumi masih berputar dan masih ada manusia.
Ketika masih kecil ingin cepat menjadi dewasa.
Ketika masih SD ingin cepat jadi anak SMA.
Ketika kuliah ingin cepat bekerja.
Namun lucunya, ketika sudah dewasa ternyata selalu ada kerinduan untuk kembali ke masa kanak-kanak dan bertingkah kekanak-kanakkan meski sudah bisa bersikap lebih bijak.
Kalau boleh saya menyarankan, jalanilah hidup yang berkualitas dengan cara banyak bekerja dan berkarya. Meski banyak rintangan, hidup ini indah dan ternyata singkat sebab,,,, tau-tau kini saya sudah dewasa (ah masa sih??)!!
Pertanyaan terakhir :
Apa itu dewasa? Pastinya hal ini bukan hanya menyangkut jumlah umur dan juga pengetahuan tentang sex. Saya yakin, Anda pasti punya jawaban masing-masing tentang apa arti dewasa.
So, are you grown up enough? Can you tell me how does it feel?
Just enjoy your life and have a great day! Vive la vie!
image source :

Senin, 01 Maret 2010

ROUTE OF LOVE



Walking down the crowded road
Seeing people from head to toe
I saw the eyes without sorrow
Staring deeply but freaking me not

Stepping forward and crossing the street
Hearing a man arguing what lies beneath
Traveling around to know what is this
Then setting a plan to begin a new story

Splitting the street form humble birds of noon
Wearing comfort shoes enjoying my rendezvous
Questioning my self when will I say I do
And the answer is on the day when I saw you





Jakarta, 30 November 2009
AYU SAPTARIKA

Rabu, 10 Februari 2010

Just Be (YOURSELF)


"Wah, ini anaknya ya! Sudah besar! Kuliah di mana?"
" Kuliah di UI jurusan kedokteran, tante"
"Wah, hebat! Ngikutin bapaknya dong. Sukses ya!"
"Terimakasih, tante!"


Obrolan seperti ini pasti sering didengar ketika Anda sedang bepergian dengan orang tua dan secara tidak sengaja bertemu dengan relasi mereka yang kebetulan bepergian juga bersama anaknya. Keputusan yang dibuat seseorang untuk mengikuti jejak karir orang tua tentu sah-sah saja. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa seorang anak memiliki kemampuan serta ketertarikan yang sangat berbeda dengan kedua orang tuanya.

Profesi adalah suatu pilihan jalan hidup yang telah ditakdirkan oleh Sang Maha Esa kepada tiap manusia yang diciptakannya. Profesi boleh dibilang merupakan kata lain dari peran atau lakon yang harus dimainkan oleh seseorang ketika masih hidup di dunia. Peran yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab sampai seseorang menutup mata dan kembali kepada-Nya. Singkat kata, jika lari dari takdir maka hanya kegalauan dan rasa penyangkalan yang terjadi di dalam diri alias you can run but you can't hide!

Memilih profesi apa yang akan ditekuni tentu butuh mengenal diri. Mengenal akan talenta yang dimiliki sendiri hingga akhirnya bisa memutuskan mau menjadi apa untuk ditekuni seumur hidup.

Sayangnya, masih banyak diantara kita yang mengalami 'penjajahan' intelektual dan profesi akibat masalah ikut-ikutan. Ikut-ikutan siapa? Ikut-ikutan teman, ikut-ikutan pacar, ikut-ikutan kakek atau nenek, sampai ikut-ikutan orang tua sendiri. Bisa jadi orang tersebut sedang bimbang atau salah penggarahan hingga ikut-ikutan. Namun, terkadang ada juga yang dipaksa karena terminologi tertentu dari orang yang memaksa. Mungkin karena yang memaksa merasa jalan hidupnya benar hingga terbukti bisa dijadikan panutan atau mungkin karena ia adalah seseorang yang kurang menghargai perbedaan serta takut akan perubahan.

Memang, tidak ada salahnya mengikuti langkah karir orang lain apalagi seseorang yang terbukti sukses dibidangnya. Akan tetapi, apa nikmatnya hidup bila tidak bisa menjadi diri sendiri? Saya rasa hanya Anda yang bisa menjawab pertanyaan ini dengan baik.

Bila Anda beropini: "Si A sukses jadi pedagang bunga. Si B berhasil menjadi pengusaha makanan kaleng. Saya ingin seperti dia!" Saran saya, coba tanya kepada si A dan si B, dari mana ia mendapat ide untuk menekuni profesi tersebut. Bisa diperkirakan mereka akan menjawab karena bidang tersebut adalah bidang yang memiliki daya tarik besar bagi mereka. Untuk itulah mereka yang pada awalnya masih "lirik kiri-kanan" kini sudah fokus pada pilihannya.

Fokus adalah kunci utama untuk berhasil dalam menjalani hidup yang penuh dengan tantangan dan kemungkinan. Tidak "lirik kiri-kanan" yang membuat Anda galau dan berkecil hati sebab membandingkan kesuksesan Anda dengan orang lain yang jelas-jelas orang lain tersebut memiliki takdir sendiri! Ingat kata pepatah : Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Oleh karena itu, jangan kebanyakan melihat rumput tetangga sampai membuat rumput di halaman Anda sendiri menjadi layu, kering dan mati.

Ingin berhasil, tentu harus pernah merasakan gagal. Ingin untung, tentu harus pernah merasakan rugi. Yang penting fokus dengan apa yang diyakini sebagai tujuan Anda dalam menjalani hidup dan satu lagi, jangan mudah menyerah!

Jalani panggilan peran yang memang dengan sadar dirasakan sebagai takdir untuk Anda. Jangan ikut-ikutan karena alasan gengsi semata atau supaya dianggap solider. Untuk urusan profesi, menurut saya ini adalah hak asasi manusia. Tak ada satu pun orang boleh memaksakannya. Meskipun begitu, yang bersangkutan juga tetap harus realistis dalam mencapai cita-cita serta tujuannya.

Tidak ada momen yang lebih indah selain menjadi diri sendiri. Tertawa memang karena ingin tertawa. Bilang tidak karena memang tidak. Memilih A karena memang pilihannya A bukan B. Bila tak ada yang mendukung, santai saja! Menjadi mandiri dan senantiasa memperjuangkan apa yang diinginkan dalam hidup bukanlah hal yang salah! Tapi jangan juga jadi pahlawan kesiangan yang terlalu idealis.

Perlu diingat pula, dunia ini tidak sempurna dan manusia dilahirkan dengan banyak kelemahan. Berbohong, curang , dan licik pasti pernah dijumpai dan dilakukan demi alasan tertentu. Yang penting, jangan kebablasan! Hati-hati jangan sampai jadi tahanan polisi lantas masuk bui! Just play it cool! Terakhir, tentu saja cintai diri Anda apapun kelemahan dan kekurangannya. Jangan malu untuk menjadi diri sendiri dan mempertahankan sesuatu yang Anda yakini.

"They say learning to LOVE YOURSELF is the FIRST STEP that you take when you want to be REAL. Flying on planes to exotic locations WON'T TEACH YOU how you REALLY FEEL. FACE UP to the FACT that you are who you are and NOTHING CAN CHANGE that belief. Just be. " - Tiesto

Just be what?
Just be yourself!
Because that is the best thing to enjoy this beautiful life!


Jakarta, 11 Februari 2010
AYU SAPTARIKA


Image source :http://eaesthete.files.wordpress.com/2009/04/fashion-illustration-3.jpg

Senin, 01 Februari 2010

Mencari Keberuntungan


Seorang teman pernah berkata, “Menjadi seniman itu tidak gampang karena tingkat keberhasilan yang bisa dicapai belum tentu jelas di masa depan. Seniman adalah sebuah profesi yang sangat membutuhkan faktor keberuntungan untuk mencapai kesuksesan karena bakat dan kerja keras saja tidak cukup!”
Jika dipikir-pikir, perkataan teman saya itu ada benarnya. Mengapa? Profesi seniman memang lain dari pada yang lain sebab tidak bisa si seniman itu sendiri yang menyatakan karyanya baik, akan tetapi harus orang lain. Mau bukti?
Jika seseorang memiliki profesi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam, maka benar atau salah dari pekerjaan yang dilakukan dapat diketahui secara rinci sebab ada dasar teori dan perhitungan yang pasti. Itulah sebabnya ilmu ini disebut juga sebagai ilmu eksakta atau ilmu pasti. Lain lagi dengan seseorang yang profesinya berhubungan dengan ilmu pengetahuan sosial, misalnya seorang akuntan atau ahli ekonomi. Transaksi seperti apa yang masuk di sisi debet atau kredit ada dasar teori yang menyatakannya. Bahkan, menghitung Return On Investment (ROI) pun ada rumusnya. Jadi, benar atau salah dapat diperkirakan atas dasar teori serta perhitungan yang jelas meskipun turut dipengaruhi oleh dinamisme kehidupan masyarakat disekitarnya.
Nah, bagaimana kalau menjadi seniman? Misalnya menjadi seorang pelukis, fotografer, penyanyi atau penyair. Boleh dibilang dasar penilaian untuk hasil karya mereka sangat bias karena tergantung dari pendapat dan selera para penonton, pendengar, pembaca hingga pengamat seni ketika sang seniman menunjukkan kebolehannya. Seluruhnya berdasarkan rasa suka atau tidak suka dari orang lain dan menurut saya tak ada satupun alat maupun rumus yang bisa mendefinisikannya dengan tepat dan akurat!
Sebuah karya seni sangat erat kaitannya dengan daya cipta dan rasa manusia atau dengan kata lain, kreativitas.Walaupun kini bidang-bidang pekerjaan yang berhubungan dengan IPA dan IPS sudah banyak metodenya yang digantikan oleh robot atau komputer seiring dengan kemajuan teknologi, kreativitas adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat digantikan oleh mesin sampai kapanpun juga. Selain itu, kreativitas turut berperan penting dalam membuat seseorang, suatu daerah, suatu negara bahkan suatu peradaban menjadi maju dan berkembang karena ada berbagai ide, ciptaan, hingga inovasi baru yang lain dan unik.
Untuk Anda penggemar lukisan, mungkin obrolan seperti ini pernah terjadi dengan rekan yang juga memuja seni.
”Aku kok lebih suka lukisan karya Da Vinci daripada Monet? Kalau kamu gimana?”
”Aku sih lebih suka karya Picasso. Lebih artistik menurutku.”
Kedua pendapat ini tak ada yang salah dan malah keduanya sah-sah saja. Sebuah opini sederhana yang membuktikan bahwa suatu karya seni sangat dipengaruhi oleh selera penikmatnya. Hal ini pula yang membuat lingkungan pekerjaan dari seorang seniman bersifat free competition.
Berbicara mengenai selera, banyak sekali faktor yang melatar belakanginya seperti faktor sosial, budaya, agama, hingga finansial. Bila pernah membaca buku atau mempelajari ilmu pemasaran mengenai perilaku konsumen, ada sebuah penjelasan yang menurut saya cukup menarik. Dikatakan bahwa ada banyak hal yang dapat digali dari persepsi tentang warna. Dari pemilihan warna ternyata dapat diketahui selera hingga keadaan ekonomi seseorang. Oleh karena itu tak heran apabila informasi ini kerap diperhitungkan oleh para produsen dalam memproduksi barang-barang yang diharapkan akan disukai masyarakat luas. Untuk apa? Untuk mendapatkan pemasukan yang ujung-ujungnya mencari keuntungan serta keberuntungan!
Kembali ke kasus seniman, mungkin seseorang yang memiliki bakat seni ini telah berusaha mengasah talenta secara otodidak maupun melalui institusi formal. Kemudian ia mulai ’menjajakan’ karya ke sana ke mari dengan susah payah. Tanpa disangka-sangka, suatu hari seorang pengamat seni kebetulan hadir saat ia mempertunjukkan kebolehan dan menyukai hasil karyanya. Saya rasa Anda dapat menebak kelanjutan ceritanya, bukan? Ya! Karya sang seniman mulai ’laku’ di mana-mana hingga membuatnya menjadi sosok yang dikenal khalayak ramai. Pada momen ’kebetulan’ ini, peran keberuntungan sangat terlihat jelas sehingga seorang seniman berhasil menjadi ’pemenang’ dalam lingkungan free competition tempat ia berjuang hidup. Rekan-rekan kita yang keturunan Tionghoa sering menyebutnya sebagai hoki.
Yang perlu dicermati adalah bahwa keberuntungan atau hoki tidak turun dari langit begitu saja. Keberuntungan harus dicari! Selain itu, keberuntungan 100% milik semua orang. Entah ia seorang bankir, pengacara, penjahit, koki, ahli mekanik ataupun seorang pianis. Entah itu ia dari golongan ekonomi bawah, menengah, hingga atas. Dengan kata lain, semua orang memiliki hak untuk mendapat berkah ini asal rajin bekerja dan percaya bahwa berkah keberuntungan yang diberikan atas restu dari Sang Pencipta ini pasti datang jika dicari.
Menyambut tahun baru Imlek, Anda pasti sudah melihat banyak buku tentang peruntungan di tahun Macan Kayu berjajar rapi di rak bahkan etalase toko buku. Tertarik untuk membacanya? Jujur saja, saya pun tertarik dan telah membaca beberapa lembar mengenai peruntungan saya berdasarkan shio di tahun ini. Namun, yakinlah bila berkah keberuntungan datang dari Tuhan tanpa mengenal batas waktu maupun tahun. Keberuntungan pasti datang pada orang yang mencari, bukan pada orang yang hanya diam dan berpangku tangan. Ingat kata pepatah, di mana ada kemauan di situ ada jalan! Selanjutnya tinggal tanya pada diri sendiri, will you do it or not?
Apapun prediksi atau ramalan yang tertulis di buku tersebut, jadikanlah sebagai penyemangat Anda dalam mencari kesuksesan yang tak lain adalah buah dari ketekunan dalam melalui berbagai cobaan dan rintangan hidup.
Ngomong-ngomong, bagi Anda yang sudah menikah dan merayakan tahun baru Imlek, sudahkah mendata nama keponakan dan sepupu yang akan diberikan ang pao? Jangan sampai ada nama yang terlupa. Yakinlah bila banyak berbagi dengan iklas maka berkah melimpah dengan sendirinya datang menaungi Anda di kemudian hari. Buat Anda yang masih sendiri, jangan ragu untuk datang ke rumah relasi-relasi baru selain keluarga untuk berbagi kebahagiaan di hari spesial ini. Siapa tahu gara-gara Anda mengunjungi mereka, tanpa sengaja malah bertemu dan berkenalan dengan seseorang yang sangat menawan hati alias jodoh. Yah.. namanya juga mencari keberuntungan, apalagi kebetulan perayaan Imlek kali ini bertepatan dengan hari kasih sayang! Tak ada salahnya selalu berharap dan berusaha.

Selamat tahun baru Imlek bagi rekan-rekan yang merayakan.
Percayalah bahwa keberuntungan selalu menyertai Anda kapanpun, dimanapun, dan apapun tahunnya!

Jakarta, 1 Februari 2010
AYU SAPTARIKA

Sabtu, 09 Januari 2010

A Funky New Year Countdown


10 thousand sadness, madness and joy had happened to me
9, why do most people still think if this is the lucky number?
8, well this is my lucky number!
7, sum of the colours of the rainbow that I had dreaming on
6 hundred times I pray to God for giving me a long lasting good luck
5 times a year I got sick heavily because of my complicated life
4 hours a week I spend my time for French course
3 is me and two of my very best friends
2 years I've been working as a writer
1 thing for sure I am looking for a soulmate (do you believe that?)

Birds flying high celebrate their freedom
The rabbit jumping hop hop hop upon the green grass
365 days had passed among a lot of flowers bloom
Left a thousand memory in such a wonderful blast

Sailing to the sea and craving for dive
It's better metting the colourful fishes that just a stupid frog
24 hours is never enough to enjoy the good life
For those who love to hit the club after working like a dog

Dressing up nicely after take a bath with fragrance soap
Expecting a sweet gift, kisses and hugs truly from a dear
The brighter day is come with full of opportunity and hope
Best wishes for you and happy new year!


Jakarta, 5 Januari 2010
AYU SAPTARIKA

Image : http://www.geofflawrence.com

Selasa, 08 Desember 2009

TOPENG DUNIA MALAM

Ku hentakkan jari-jari tanpa henti
Ku rasakan ketukannya hingga menggoyangkan kaki
Satu, dua, tiga, la.. la.. la.. la..
Hingga tanpa sadar tubuhku telah berdansa

Ku berlari sejenak dari kenyataan
Tenggelam dalam alunan melodi penuh energi
Berdendang ceria dengan langkah kaki cekatan
Melepaskan semua beban dan gundah yang menjadi-jadi

Hahahaha... aku mendengar gelak tawa dari seberang
Nada tawa bahagia dari orang-orang penikmat hiburan
Tapi ada juga yang memalukan karena menjadi berang
Terlalu banyak minum dan mengira hidupnya pupus tanpa harapan!

Aku lanjut berdansa, penuh semangat
Merah, hijau, biru, ungu semburat warna yang menghiasi lantai dansa
Sinarnya terang seperti matahari yang hangat
Sampai tak sadar inikah malam atau pagi yang penuh asa

Aku melangkah ke depan, kiri, kanan dan ke belakang
Tak bosan mengikuti dentuman irama
Aku terbang dalam nada tanpa kekang
Sampai membuat semua orang iri dan ingin bisa

Tiba-tiba kakiku melambatkan langkah
Tanganku tak lagi melambai di atas kepala
Aku melihat sebuah pertanda atau berkah
Lalu kudengar orang di sekitarku mengucapkan bla..bla..bla..

Oh, apa itu? Di mana aku?
Mengapa pengeras suara tak lagi bersenandung?
Mengapa banyak bintang gemerlapan bersinar tanpa ragu?
Sudah berakhirkah hari bahagiaku?

Ku gerakkan tangan dan kaki mendekati teman-teman
Aku bicara lantang tapi mereka tidak mendengarkan
Ingin ku berbagi cerita, keluh kesah dan pertanyaan
Namun meski di antara keramaian aku tetap merasa sendirian

Aku berseru kencang namun yang terasa hanyalah sepi
Ku berseru lagi dengan minuman keras di tangan sampai lupa diri
Tetap saja tidak ada yang peduli!
Sepi, sunyi!

Esok pasti ku tahu mengapa tidak ada yang mau mendengarkan
Karena kemarin aku mengira hidupku benar-benar tanpa harapan!

Jakarta, 5 Desember 2009
AYU SAPTARIKA

Minggu, 29 November 2009

Walking Back On Track


Kata orang, jodoh akan datang sendiri jika seseorang sudah siap lahir batin. Siap dengan definisi bahwa sudah 'berjalan' di jalur kehidupan yang memang diciptakan untuknya. Jalur itu sudah terlukis di telapak tangan ketika seseorang dilahirkan. Akan tetapi seiring perjalanan kehidupan, banyak godaan dan cobaan yang membuat seseorang hilang dan tersesat.

Tentu Anda pernah mengalami masa puber ketika remaja. Menurut para ahli kejiwaan, masa tersebut adalah momen transisi di mana seorang anak tengah mencari jati diri.
Aku ini siapa ya?
Aku ini minatnya apa?
Aku ini mau jadi apa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering dilontarkan kepada diri sendiri ketika remaja. Namun, bagi rekan-rekan yang sempat 'tersesat', tidak menutup kemungkinan bahwa momen ini akan terulang kembali.
Pepatah malu bertanya sesat di jalan memang terbukti benar dan tak terkecuali dalam pencarian jalan hidup. Momen transisi bisa terjadi lagi saat seseorang mulai menghadapi kehidupan nyata. Sebuah realita yang di dalamnya terdapat aneka bentuk kebaikan maupun kekejaman. Ya, pertanyaan-pertanyaan di atas kembali dilantunkan pada diri sendiri. Saran saya, jangan lagi bertanya atau minta pendapat orang lain. Tanyakan hanya pada diri sendiri sampai mendapat jawaban yang memuaskan!

Langkah kaki Anda dengan saudara, teman, keluarga dan rekan-rekan lainnya mungkin terlihat hampir sama secara fisik. Akan tetapi mengenai jalan dan jalur tempat kaki dilangkahkan dijamin tidak ada satupun yang sama meskipun seseorang memiliki saudara kembar.
Apa yang terjadi jika Anda ingin berada di jalur yang sama dengan orang lain atau entah bagaimana ada orang lain yang menginginkan Anda berjalan di jalur yang bukan diyakini? Jawabannya adalah sebuah penyangkalan diri. Anda akan menjadi 'orang lain' yang pada akhirnya merasa sangat asing dan hilang dengan diri sendiri.

Seorang aktor dan aktris teater atau televisi yang biasa bersandiwara pasti memiliki waktu beristirahat. Walau istirahat hanya 1 jam untuk makan, namun momen ini turut dimanfaatkan untuk melepas rindu untuk menjadi diri sendiri setelah lelah berperan sebagai orang lain. Bayangkan jika dalam kehidupan nyata, Anda hidup selama 24 jam dengan berpura-pura. Anda pasti akan frustasi dan hei, awas hati-hati jangan sampai berakhir di sanatorium atau malah bunuh diri! Berpikirlah yang realistis, jangan terus berkhayal. Mempunyai mimpi dan cita-cita tinggi tidaklah salah, tapi realita adalah hal utama yang harus dihadapi.

Tak ada kata terlambat untuk menyadari sesuatu yang salah dalam hidup. Tidak ada kata terlambat untuk bertekad agar tak tersesat lagi. Menyadari di mana 'salah belok' dalam jalur kehidupan memang bukan hal yang gampang. Akan tetapi menyadarinya adalah awal dari sebuah perjalanan baru yang nantinya dihiasi oleh lampu-lampu terang. Siapa tahu, di ujung jalan bertemu dengan kesuksesan. Saya rasa, siapapun pasti tidak akan menolaknya.

Bila pikiran tenang, hatipun ikut tenang dan penyakitpun jarang 'hinggap' di tubuh. Dengan begitu, kaki akan tahu kemana harus melangkah. Tangan akan tahu apa saja yang harus dikerjakan. Namun jangan lupa, bersiap selalu untuk hal-hal tak terduga yang bisa terjadi diluar kuasa Anda. Sehingga, ketika rencana kurang berjalan lancar, kecewa yang dirasa tidak menusuk hingga 'melumpuhkan'.
Selanjutnya bersiaplah, mungkin Anda akan menjumpai seseorang yang ditunggu-tunggu. Lihat saja, sebentuk cincin akan menghiasi jari manis dengan segera!

Don't cry too long when you are lost. Don't let the fire of sadness and dissapointment burn your mind and soul. Wake up and never give up to find your perfect path in life. God bless you!


Musical Time: Let's Learning!

Music has been part of my life since I was young, Everyday I wake up with music and also go to bed with music, Just like an a...